Senin, 18 Februari 2008

Renungan

The only opinion about your dream that really count is yours. The negative comments of others merely reflect their limitations – not yours (Cynthia Kersey)

Selasa, 13 November 2007

Ketua KPU Banten Terancam Dibui Lagi

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banten Tb Didi Hidayat Laksana dan Kabag Umum KPU Banten Gaos S Misbach terancam masuk bui lagi menyusul penetapan majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Banten, yang menerima permintaan perlawanan hukum (verset) dari jaksa penuntut umum (JPU). Penetapan diterimanya verset tersebut telah dikirimkan ke Pengadilan Negeri (PN) Serang pada 25 Oktober. Majelis hakim PT Banten juga memerintahkan PN Serang membuka kembali perkara dugaan korupsi logistik Pilkada Banten 2006 dan melanjutkan proses persidangan.

Sebelumnya, Didi dan Gaos mendekam di LP Serang sampai akhirnya menghirup udara bebas setelah majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Serang menyatakan keduanya tidak cukup bukti melakukan tindakan pidana korupsi. Panitera Muda (Panmud) Pidana PT Banten Fery Ardiansyah mengatakan, putusan yang menerima verset jaksa diputuskan oleh majelis hakim yang diketuai Rosmala Sitorus didampingi Sudarman dan Robbah sebagai hakim anggota. Putusan majelis hakim ini dituangkan dalam putusan verset yang dibagi dalam dua berkas.

Untuk terdakwa Tb Didi Hidayat Laksana putusan verset-nya bernomor 80/PID/2007/ PT Btn, sedangkan Gaos nomor putusannya 81/PID/2007/ PT Btn. Kedua putusan itu turun pada tanggal 4 Oktober lalu. Dalam amar putusannya, majelis hakim PT Banten menyatakan menerima verset JPU dalam perkara tersebut. Dalam amar itu juga, hakim PT Banten sekaligus membatalkan putusan sela PN Serang bernomor 515/Pid.B/2007/ PN Srg untuk terdakwa Didi dan nomor 516/Pid.B/2007/ PN Srg untuk terdakwa Gaos yang dulu membuat keduanya bebas, karena surat dakwaan jaksa saat itu dianggap cacat hukum atau obscur libel.

Banten, Belajarlah dari Malaka

Banten di ujung barat Pulau Jawa dan Malaka di pantai barat Semenanjung Malaka memiliki kesamaan sebagai situs sejarah dunia. Banten dan Malaka memiliki warisan Islam, Melayu, pertemuan bangsa-bangsa Barat, India, Tionghoa, dan perdagangan dunia di masa silam pada periode sekitar abad XV-XVIII.

Sejarah di Malaka telah menjadi sumber devisa dan salah satu ikon bangsa Malaysia. Begitu mudah menjangkau Malaka, sekitar 150 kilometer dari Kuala Lumpur. Setiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) kita dapat langsung menyewa mobil dan meluncur di jalan tol utara-selatan (North-South Highway). SIM Indonesia dapat digunakan di negara ASEAN.

Selama satu setengah jam berkendara, tiba di persimpangan Ayer Keroh (Air Keruh) dan sampailah kita di Malaka. Jalan mulus, seluruh rambu terpampang jelas, brosur tersedia cuma-cuma, pusat informasi dilayani oleh staf yang mampu berbicara dua atau tiga bahasa.

Pariwisata Malaka secara spesifik menjual serangkaian situs, seperti Stadhuys (Balaikota), Gereja ST Paul tempat Santo Fransiskus Xaverius dimakamkan, Museum Bahari dengan ikon sebuah Galleon Portugis, Museum Cheng Ho, pemukiman Eurasia, Pecinan, budaya campuran Tionghoa-Melayu yang dikenal sebagai kaum peranakan.

Permukiman dan bangunan tua gaya Victoria di Heeren Street (sekarang dinamai Jalan Tun Tan Cheng Lock) berikut seni kuliner yang hidup hingga kini menjadi jualan utama. Hasilnya: setiap hari tidak kunjung henti wisatawan asing memenuhi Malaka.

Variasi pengembangan wisata turut berjalan mengiringi wisata sejarah. Setiap akhir pekan, sejak Jumat-Minggu, berlangsung pasar malam di Kota Tua Malaka yang berlangsung hingga pukul 02.00 dini hari. Itulah kejayaan Malaka yang dibangun Parameswara, bangsawan dari Sumatera keturunan Majapahit dan kini dijual sebagai mesin penghasil devisa.

Banten lebih kaya
Sejatinya, seluruh Provinsi Banten dapat dikemas sebagai wisata sejarah. Banten Lama dengan kisahnya yang memikat tidak kalah dengan Malaka. Benteng Spelwijk, misalnya, jauh lebih besar dari A Famosa di Malaka atau Fort Cornwallis di Penang.

Menara Masjid Agung dan Menara Masjid Pecinan Tinggi dapat menjadi situs ziarah Islam dunia atau setidaknya regional. Situs sejenis ada di Gresik, Pattani, Thailand, pada sebuah masjid tanpa atap yang kini menjadi situs ziarah regional.

Kanal-kanal Banten Lama dapat dikemas menjadi wisata air, seperti di Amsterdam, Belanda, yang menjual Prinsen Gracht, Keizer Gracht, dan Heeren Gracht yang diapit bangunan tua. Kanal yang membelah Benteng Spelwijk, Wihara Awalokiteswara, Pabean, dan pelbagai kampung Banten Lama memiliki potensi serupa.

Lepas dari Banten Lama, terdapat situs Perang Dunia II di Teluk Banten. Pada pertempuran Laut Jawa babak akhir, HMAS Perth dan USS Houston tenggelam setelah bertempur dan sempat menenggelamkan sejumlah kapal pendarat pasukan Jepang. Pada situs serupa di sekitar perairan Surabaya-Pulau Bawean, secara berkala Angkatan Laut Belanda mengadakan tabur bunga.

Namun, tidak seperti di Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Pasifik, situs Perang Dunia II ini tidak dilestarikan dan dijadikan pusat wisata sejarah yang didatangi para veteran perang, sanak-keluarga, dan wisatawan asal negara yang terlibat dalam perang besar yang mengubah wajah dunia modern. Bangkai kapal USS Arizona yang tenggelam di Hawaii menjadi situs sejarah dan pusat wisata.

Belum lagi Jalan Pos Anyer Panarukan yang dibangun saat Nusantara di bawah Perancis. Titik "0" kilometer Pulau Jawa dimulai dari Menara Mertju Suar Anjer yang bertarikh 1885. Sejarah letusan Krakatau tahun 1883 yang terkenal di seluruh dunia juga dapat dijual dengan cerita dan bumbu yang menarik. Sebagai contoh, sebuah batu karang yang terangkat dari dasar laut akibat tsunami selepas letusan Krakatau dan terdampar di tengah daratan dekat Kantor Telkom Anyer dapat dijadikan lokasi wisata tersendiri.

Ikon lain yang tak kalah penting adalah wisata alam Ujung Kulon dengan badak cula satu yang tersisa di dunia. Perairan Selat Sunda, Pantai Anyer, Masyarakat Baduy. Selain itu, ikon masyarakat Banten secara keseluruhan sebagai "museum hidup" yang melestarikan warisan sejarah dan kebesaran leluhur mereka. (Iwan Santosa, Kompas, 8 November 2007 )

Minggu, 16 September 2007

3 Jaksa Pandeglang Peras Kepala SDN

Kejati Banten segera menyelidiki kasus pemerasan Kepala SDN Sodong 2 Saketi, Pandeglang, yang diduga dilakukan 3 oknum pegawai Kejaksaan Negeri (Kajari) Pandeglang berinisial ES, HI dan MP sebesar Rp1.100.000.

Untuk diketahui, penyelidikan yang dilakukan Kejati ini, karena Kepala SDN 2 Sodong, Saketi, Pandeglang, Janati, mengaku telah didatangi tiga orang yang mengendarai mobil dinas dan pakaian kejaksaan. Ketiganya mendatangi SDN Sodong 2 mengatasnamakan jaksa. Ketiga orang itu meminta uang dengan alasan pekerjaan pembangunan gedung di sekolah itu bermasalah. Janati ditakut-takuti apabila tidak memberi uang maka pekerjaan bangunan akan disidik oleh kejaksaan. Lantaran ketakutan, kepala sekolah memberikan uang kepada tiga oknum itu sebesar Rp 1.100.000.

Sementara itu, Kepala Kejari (Kajari) Pandeglang Yessi Esmiralda belum mengetahui hal tersebut. Tetapi, dia meminta agar kepala sekolah datang ke Kejari dan menunjukan oknum pegawai Kejari yang melakukan pemerasan.

Sebelumnya, Kejati Banten telah melimpahkan hasil pemeriksaan 8 jaksa yang berasal dari wilayah Banten, yang dianggap nakal karena terkait indisipliner dan memiliki perilaku yang dianggap tidak sungguh-sungguh menyelesaikan perkara.

Sementara itu, Gerakan Nasional Pemberatasan Korupsi (GNPK) Provinsi Banten prihatin dengan munculnya kasus-kasus di sekitar aparat penegak hukum, termasuk kejaksaan. Ibaratnya penegak hukum itu merupakan sapu yang harus membersih lantai agar terlihat bersih. Tetapi bagaimana mau bersih, wong sapunya belepotan. Hasilnya, lantai yang disapu bukan tambah bersih malah bau dan kotor.

Rabu, 12 September 2007

Merak Dituding Sengaja Buat Antrean Truk

Pengemudi kendaraan pengangkut barang menuding terdapat unsur kesengajaan dalam peristiwa penumpukan kendaraan yang tejadi dalam dua bulan terakhir ini di Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakauhuni (Lampung). Hampir setiap akhir pekan terjadi antrean panjang. Seharusnya, pihak pelabuhan sudah tahu bahwa menjelang puasa, pasti terjadi peningkatan arus barang dari Pulau Jawa-Sumatera atau sebaliknya.

Kesan adanya unsur kesengajaan itu menyebar di kalangan pengemudi. Ada pengemudi yang mengaitkan kesan itu dengan permainan oknum-oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya. Dengan terjadinya penumpukan barang, oknum-oknum itu bisa menawarkan berbagai jasa mulai dari jasa keamanan, jalur tembak dan sebagainya.

Sebagian pengemudi juga menengarai penumpukan kendaraan itu merupakan upaya pengelola pelabuhan menekan pemerintah pusat agar tarif penyeberangan dinaikkan. Sebab dengan keruwetan dan penumpukan kendaraan, pengelola pelabuhan beralasan bahwa peristiwa itu disebabkan minimnya pendapatan akibat tarif saat itu.

Penumpukan kendaraan pengangkut barang di Pelabuhan Penyeberangan Merak, Kota Cilegon, Provinsi Banten semakin parah. Antrean truk kembali memadati ruas Jalan Tol Jakarta-Merak, tepatnya hingga di Km 97.600 atau sejauh 7 Km. Namun Minggu (9/9) malam, antrean kendaraan truk sudah mulai menyusut. Antrean tersebut mulai menyusut tinggal 3 kilometer dari arah pelabuhan.

Sementara itu, Manajer Operasional ASDP Indonesia Ferry Merak, Endin Juhaendi membantah penumpukan kendaraan itu merupakan rekayasa atau terdapat unsur kesengajaan. Penyebab penumpukan kendaraan kali ini adalah gelombang laut di Selat Sunda sangat besar sejak Kamis (6/9). Tingginya gelombang laut ini menyebabkan kapal-kapal roro kesulitan untuk sandar di dermaga, baik di Merak maupun di Bakauheuni. Ini mengakibatkan bertambahnya waktu sandar yang pada akhirnya mengurangi jumlah trip kapal. Kalau trip berkurang berarti jumlah penumpang dan kendaraan yang diseberangkan berkurang.

Kondisi ini bertambah parah karena sebagian kapal roro masih menjalani perawatan atau docking. Dari 22 kapal yang ada, 6 kapal masuk docking. Sisanya, 16 kapal melayani penyeberangan di Selat Sunda. Namun kapal yang beroperasi itu memiliki kapasitas muat kendaraan relatif kecil berkisar 30-40 kendaraan per kapal. Sedangkan kapal yang docking justru memiliki kapasitas muat di atas 150 kendaraan per kapal. Jadwal keberangkatan kapal roro juga semakin lambat akibat pengisian BBM kapal roro di tengah laut yang memerlukan waktu 6 jam, sehingga sangat mempengaruhi kapasitas muat seluruh kapal roro.

999 Penderita Diare di Saketi

Penderita diare di Saketi, Kabupaten Pandeglang sejak Januari-Agustus 2007 tercatat 999 orang. Diare disebabkan tercemarnya lingkungan pemukiman akibat tidak sehatnya pola hidup masyarakat setempat. Misalnya Desa Majau ternyata termasuk daerah endemis diare. Penyebabnya, warga setempat tidak memiliki MCK. Warga masih berak di lahan perkebunan karet.

Selama tahun 2007, kejadian luar biasa (KLB) terjadi bulan Februari. Pada KLB itu, sebanyak 179 orang terjangkit diare dalam kurun satu hari setelah mengkonsumsi makanan di salah satu rumah di desa tersebut yang sedang hajatan. Kalau dilihat dari lingkungan, warga Desa Majau kurang memperhatikan kebersihan lingkungan, sehingga warganya mudah terjangkit diare.

Penyakit diare sendiri disebabkan bakteri echolin yang terdapat pada kotoran manusia. Karena warga daerah tersebut jarang yang memiliki MCK, maka akan mudah terjangkit diare!

Jumat, 07 September 2007

Dilarang ke Serang, Sopir Angkot Demo

Ratusan sopir angkot jurusan Cilegon-Serang kembali demo di Terminal Kepandean, Serang, Banten, Jumat (7/9). Mereka memprotes larangan angkot masuk ke Serang. Aksi ini memacetkan lalu lintas di Jalan Legok dan Kepandean.

Kericuhan sempat terjadi ketika sejumlah sopir mensweeping sopir lain yang masih beroperasi. Para penumpang termasuk pelajar terlantar karena diturunkan paksa di jalan. Polisi menangkap sejumlah sopir yang dianggap provokator.

Unjuk rasa ini adalah yang ketiga kalinya sebagai buntut kebijakan Dishub Banten yang melarang angkot dari Cilegon memasuki Serang. Sejumlah sopir mengaku kadang dibolehkan masuk ke Serang setelah membayar pungli kepada oknum petugas sebesar Rp 10 ribu per hari.